Perang Banjar menjadi salah satu perlawanan penting rakyat Kalimantan Selatan terhadap kolonial Belanda. Dalam menghadapi perlawanan tersebut, Belanda memasang harga kepala sejumlah pemimpin perjuangan. Kebijakan itu bertujuan menangkap tokoh yang dianggap mengancam kekuasaan kolonial.
Pangeran Antasari menjadi salah satu tokoh dengan harga kepala tertinggi. Pemerintah Belanda menawarkan imbalan sebesar 10.000 gulden untuk menangkap atau membunuhnya. Nilai tersebut sama dengan harga kepala Pangeran Hidayatullah. Tawaran itu menunjukkan besarnya ancaman Antasari bagi kekuasaan Belanda.
Sementara itu, Demang Lehman memiliki harga kepala sebesar 2.000 gulden. Angka tersebut tercantum dalam daftar harga kepala pemimpin Perang Banjar yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Di bawahnya terdapat Haji Buyasin dengan nilai 1.000 gulden. Pangeran Aminullah memiliki harga kepala mencapai 4.000 gulden.
Demang Lehman dikenal sebagai salah satu panglima penting dalam Perang Banjar. Ia terus melawan Belanda melalui berbagai pertempuran dan strategi gerilya. Belanda kemudian berusaha menangkapnya dengan berbagai cara. Ia akhirnya ditangkap pada 1864 dan dihukum mati dengan cara digantung di Martapura.
Pangeran Antasari sendiri tidak pernah menyerah kepada Belanda. Ia tetap memimpin perlawanan hingga wafat pada 11 Oktober 1862. Tawaran 10.000 gulden tidak membuat perjuangannya berhenti. Sejarah harga kepala tersebut kini menjadi bagian penting dalam kisah Perang Banjar dan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan
