Kalimantan Selatan masih mengandalkan batu bara sebagai salah satu penopang utama perekonomiannya. Kondisi itu mendorong pemerintah mempercepat hilirisasi dan inovasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalsel Fadjar Majardi menyebut batu bara berkontribusi hampir 30 persen terhadap ekonomi daerah. Komoditas tersebut juga menyumbang sekitar 95 persen terhadap ekspor Kalsel. Ketergantungan itu membuat hilirisasi dinilai penting untuk memperkuat struktur ekonomi daerah.

Gubernur Kalsel Muhidin sebelumnya menyoroti penjualan batu bara yang masih dominan dalam bentuk mentah. Pemerintah daerah kini mengkaji pengolahan batu bara menjadi produk bernilai tambah. Salah satu gagasan yang dibahas adalah pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku pupuk.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi Kalsel. Pemerintah daerah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,1 persen. Bank Indonesia dan akademisi Universitas Lambung Mangkurat turut mengkaji pengembangan industri turunan batu bara.

Dorongan hilirisasi mulai mendapat dukungan dari agenda investasi daerah. Dalam Pamor Borneo 2026, proyek batu bara menjadi metanol di Tapin ditawarkan dengan nilai sekitar Rp46 triliun. Pemerintah berharap inovasi membuka sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam Kalsel.